Nuklir Ramah Lingkungan Untuk Masyarat

113

Kaukus Muda Indonesia (KMI) menggelar seminar Nasional Di Hotel Le Meridien Jakarta dengan mengutamakan bahwa Nuklir Ramah Lingkungan Untuk Kesejahteraan Masyarakat Indonesia hal ini di utarakan oleh Efrizon Umar dalam pemaparan materinya.

dia juga menambahkan bahwa Teknologi nuklir sebenarnya telah memberikan kontribusi besar dalam kehidupan baik secara langsung maupun tidak langsung di bidang kesehatan,energi, industri, pertanian dan pertambangan.

dalam hal ini dia juga menjelaskan bahwa Nuklir adalah salah satu sumber energi yang ramah lingkungan. Bahkan, polusi yang ditimbulkan energi nuklir jauh lebih kecil dibanding polusi energi fosil. Artinya, pemanasan global akibat polusi energi fosil yang terus meningkat sebenarnya dapat diatasi dengan tenaga nuklir. PLTN termasuk dalam pembangkit daya base load, yang dapat bekerja dengan baik ketika daya keluarannya konstan (meskipun boiling water reactor dapat turun hingga setengah dayanya ketika malam hari). Daya yang dibangkitkan per unit pembangkit berkisar dari 40 MWe hingga 1000 MWe. Unit baru yang sedang dibangun pada tahun 2005 mempunyai daya 600-1200 MWe. Nuklir merupakan energy yang paling padat sejauh ini, sehingga kita dapat mengekstrak lebih banyak panas dan listrik dibandingkan dengan sumber tenaga lain. Sebagai pembanding, 1 kg batu bara dan uranium yang sama2 berasal dari perut bumi. Jika kita mengekstrak energi listrik dari 1 kg batubara, kita dapat menyalakan lampu bohlam 100W selama 4 hari.Dengan 1 kg uranium, kita dapat menyalakan bohlam paling sedikit selama 180 tahun.”

Dalam pembangkit listrik konvensional, air diuapkan di dalam suatu ketel melalui pembakaran bahan fosil (minyak, batubara dan gas). Uap yang dihasilkan dialirkan ke turbin. Uap akan bergerak apabila ada tekanan uap. Perputaran turbin selanjutnya digunakan untuk menggerakkan generator, sehingga akan dihasilkan tenaga listrik.

Baca juga:  Rudal Buatan Pakistan Sedang Dipersiapkan

Pembangkit listrik dengan bahan bakar batubara, minyak dan gas mempunyai potensi yang dapat menimbulkan dampak lingkungan. Dampak lingkungan akibat pembakaran bahan fosil tersebut dapat berupa CO2 (karbon dioksida), SO2 (sulfur dioksida) dan NOx (nitrogen oksida), serta debu yang mengandung logam berat. Kekhawatiran terbesar dalam pembangkit listrik dengan bahan bakar fosil adalah dapat menimbulkan hujan asam dan peningkatan pemanasan global.

PLTN beroperasi dengan prinsip yang sama seperti PLK, hanya panas yang digunakan untuk menghasilkan uap tidak dihasilkan dari pembakaran bahan fosil, tetapi dihasilkan dari reaksi pembelahan inti bahan fisi (uranium) dalam suatu reaktor nuklir. Tenaga panas tersebut digunakan untuk membangkitkan uap di dalam sistem pembangkit uap (Steam Generator) dan selanjutnya sama seperti pada PLK, uap digunakan untuk menggerakkan turbin generator sebagai pembangkit tenaga listrik. Sebagai pemindah panas biasa digunakan air yang disirkulasikan secara terus menerus selama PLTN beroperasi.

Proses pembangkitan listrik ini tidak membebaskan asap atau debu yang mengandung logam berat yang dibuang ke lingkungan atau melepaskan partikel yang berbahaya seperti CO2, SO2, NOx ke lingkungan, sehingga PLTN ini merupakan pembangkit listrik yang ramah lingkungan. Limbah radioaktif yang dihasilkan dari pengoperasian PLTN adalah berupa elemen bakar bekas dalam bentuk padat. Elemen bakar bekas ini untuk sementara bisa disimpan di lokasi PLTN sebelum dilakukan penyimpanan secara lestari

SHARE

Kirim Komentar