Mahasiswa Pelopor Pembangunan Oleh M. Syarif Hasan

149

Pembangunan merupakan keharusan dalam mewujudkan tujuan kemerdekaan nasional. Sebab, setelah

kesatuan wilayah dan bangsa Indonesia tercapai, maka langkah selanjutnya dalam pengisian

kemerdekaan adalah seperti tercantum dalam Primbol UUD 1945, memajukan kesejahteraan umum

dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Cita-cita pembangunan ditujukan ke arah pencapaian

masyarakat yang adil dan makmur, baik materil maupun spiritual. Oleh karena itu pembangunan

menyangkut semua segi kehidupan manusia dan masyarakat Indonesia, tegasnya, membangun

manusia Indonesia seutuhnya. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan merupakan pekerjaan yang

berat dan kompleks, dan hanya akan berhasil apabila didukung oleh seluruh lapisan masyarakat

Indonesia yang bhineka (pluralistis).

Mahasiswa sebagai bagian masyarakat dan bangsa Indonesia yang sedang belajar di perguruan tinggi,

harus dan seharusnya memikul tanggungjawab dalam pembangunan. Sebagai generasi muda yang

sedang belajar di perguruan tinggi, mahasiswa merupakan “Human Invesment” yang berkualitas

tinggi, yakni menjadi obyek dari pembangunan. Di lain pihak, sebagai suatu kelompok masyarakat,

mahasiswa merupakan subyek pembangunan yang seharusnya memberikan dharma-baktinya terhadap

pembangunan. Kedua hal ini sebagai obyek dan sebagai subyek pembangunan hanya dapat dibedakan

tetapi tidak dapat dipisahkan. Mahasiswa adalah bagian generasi masyarakat, tegasnya generasi muda

yang karena kualitas mendapat kesempatan untuk menuntut ilmu pengetahuan di perguruan tinggi.

Karena kualitas itulah, maka mahasiswa merupakan kelompok terbaik generasinya, kelompok elite

dalam generasi muda dengan sifat-sifat kepeloporan, keberanian dan kritis.

Hak istimewa mahasiswa terutama terletak pada adanya kesempatan yang dipunyainya untuk

menuntut ilmu pengetahuan. Karena itu kewajibannya yang utama ialah berusaha agar haknya itu

tidak berlalu dengan sia-sia, yaitu mahasiswa berkewajiban menjadikan diri mereka pemilik ilmu

pengetahuan dan penguasa keterampilan, untuk dibaktikan kepada rakyat dan tanah air dalam

pembangunan. Mahasiswa haruslah diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengembangkan

kualitas kepribadiannya dengan sebaik-baiknya, agar dapat menjadi seorang intelektual sejati.

Seorang intelektual yang mendalam dan terampil dalam disiplinnya (spesialisasinya) tetapi mampu

bekerja interdisipliner, dapat berkreasi dan berpendapat sendiri serta berani menyatakan pendapatnya

itu dengan bebas. Dengan demikian mahasiswa akan merupakan “Human Invesment” yang

berkualitas tinggi “tomorrow’s decision maker” yang memiliki integritas intelektual dan integritas

kepribadian. Dari segi lain, mahasiswa adalah bagian dari civitas academika yang dalam tradisinya

memiliki kebebasan ilmiah dan kebebasan mimbar.
Oleh karena itu perguruan tinggi merupakan pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan, dengan sifat-

sifatnya yang bebas, tidak mempunyai kepentingan langsung (non-interest) dan hanya memihak

kepada kebenaran dalam mengemukakan penilaian dan pendapatnya. Bahkan banyak bukti-bukti yang

dapat dikemukakan dimana civitas academika tampil sebagai pendobrak kemacetan dalam negaranya,

di antaranya seperti di Korea pada zaman Presiden Syahgman Rhee, Universitas Sarbonne di Perancis

pada zaman Presiden De Gaulle, Universitas Ondurman di Sudan, dan masih segar dalam ingatan kita

pada akhir zaman Presiden Soekarno (Orla) dan tragedi Trisakti 1998 yang meruntuhkan rezim

pemerintahannya Presiden Soeharto (Orba) dan yang lain sebagainya di belahan dunia. Apabila civitas

academika muncul ke depan, selalu mendapat sambutan luas dari masyarakat. Mengapa? Karena sifat-

sifatnya yang bebas, non-interest serta hanya memihak kepada kebenaran, sehingga dalam pandangan

mayarakat perguruan tinggi merupakan kubu tempat mempertahankan sendi-sendi intelektual, sendi-

sendi kebudayaan dan sendi-sendi moral.

Baca juga:  PBB, Genosida, dan Mahkamah Internasional Oleh : R. Saddam Al-Jihad/PB HMI (Mahasiswa Doktor Ilmu Pemerintahan IPDN)

Mahasiswa sebagai generasi muda kampus haruslah dipersiapkan untuk menjadi pewaris dan pelanjut

tradisi civitas academika tersebut. Seperti telah dinyatakan bahwa mahasiswa harus dan seharusnya

memikul tanggungjawab dalam pembangunan. Peranan mahasiswa dalam pembangunan ini haruslah

disesuaikan dengan dan didasarkan pada kedudukan dan spesialisasinya. Setiap partisipasi dalam

suatu kegiatan dimulai dengan adanya pengertian tentang bentuk-bentuk dan tujuan daripada kegiatan

itu serta nilainya bagi manusia sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Dengan

pengertian yang mantap akan menimbulkan rasa ikut punya, yang selanjutnya melahirkan sikap-sikap

yang konstruktif dan bertanggungjawab, serta keinginan yang sungguh-sungguh agar kegiatan itu

mencapai sasarannya dengan sukses dan terhindar dari kegagalan. Demikian pula halnya dengan

pembangunan.

Oleh karena itu mahasiswa perlu diberi pengertian tentang masalah-masalah yang menyangkut

pembangunan, baik yang berupa segi-segi teoritisnya, yakni dengan meninjaunya dari berbagai

disiplin ilmiah seperti ekonomi, teknologi, sosiologi, psikologi, administrasi dan lain sebagainya,

maupun yang berupa segi-segi praktisnya, seperti bagaimana tatacara yang harus ditempuh untuk

mewujudkan suatu proyek pelita dan sebagainya. Mungkin hal ini dapat dilaksanakan dalam bentuk

pemberian studium generale tentang pembangunan. Pembangunan berarti perubahan ke arah yang

lebih baik dan lebih sempurna, baik dalam segi-segi fisik maupun segi-segi sosial-kultural dan sikap

hidup (attitude). Peranan perguruan tinggi sebagai “creative minority” sangat penting, artinya dalam

mendorong perubahan-perubahan tersebut.

Oleh karena itu mahasiswa dengan sifat-sifat kepeloporan, keberanian dan kritis akan merupakan

“agent of change”, motor penggerak perubahan-perubahan sosial kultural dan sikap hidup yang akan

menopang pembangunan. Peranan ini akan dapat diwujudkan baik dalam bentuk-bentuk yang formal

seperti program masuk desa, bimas, dan sebagainya, maupun yang informal terutama untuk

kelompok-kelompok sosial darimana mahasiswa yang bersangkutan berasal. Hal yang terakhir ini

sangat penting bila diingat bahwa masyarakat kita masih bhineka (pluralistis). Disamping itu,

partisipasi yang mungkin dilaksanakan mahasiswa dalam pembangunan secara langsung adalah

dibidang penelitian dan kuliah kerja atau praktikum. Penelitian daerah sangat diperlukan dalam

penentuan kebijaksanaan pembangunan, baik pembangunan sektoral maupun regional. Untuk hal

tersebut mahasiswa dapat memberikan sumbangannya dengan melaksanakan penelitian terutama yang

telah atau akan ada seperti (Regional Scientific Development Center).

Sedang peranan melalui kuliah kerja atau praktikum akan besar manfaatnya bukan hanya bagi

pembangunan tetapi juga memberikan manfaat atau pengalaman praktis bagi mahasiswa yang

bersangkutan. Partisipasi ini dapat dilakukan melalui badan konsultasi atau lembaga pengabdian

masyarakat. Dari segi lain, mahasiswa sebagai kelompok yang bebas dan kritis-obyektif, akan sangat

peka dan perasa terhadap peristiwa-peristiwa yang menyimpang dari kebenaran dan keadilan. Oleh

karena itu mahasiswa dapat berperan sebagai kekuatan moral (moral force) yang akan dapat

melakukan kontrol sosial (social control) yang bertanggungjawab terhadap peristiwa-peristiwa yang

tidak sesuai dengan idealismenya. Kontrol sosial tersebut sebagai manifestasi perbedaan penilaian dan

pendapat, dapat pula mengembangkan pada diri mahasiswa sikap mengakui dan menghormati hak

orang atau kelompok lain untuk menyatakan pendapat dan pendiriannya sebagai masyarakat minimal

dalam suatu masyarakat demokratis, terlebih-lebih bagi kita di Indonesia dengan masyarakat yang

pluralistis.
Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia dan Wasekjend Bidang Ekonomi dan

Kesejahteraan Rakyat PB HMI Periode 2016-2018.

SHARE

Kirim Komentar