Dukungan Rusia Untuk Trump

127

Capres Partai Republik Donald Trump meminta kekuatan asing untuk meretas surat elektronik (e-mail) milik rivalnya asal Partai Demokrat Hillary Clinton. Permintaan itu disampaikan pengusaha kelas kakap tersebut saat berpidato di Miami, Florida.

Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) itu tidak menyerahkan 30 ribu e-mail dalam akun pribadinya sebagai bagian dari penyelidikan. Clinton berdalih 30 ribu e-mail tersebut sangat rahasia. Untuk itu, Trump secara khusus meminta Rusia membongkarnya.

“Rusia, jika Anda mendengar, saya berharap Anda dapat menemukan 30 ribu e-mail yang hilang. Saya yakin Anda akan diberikan pujian setinggi langit oleh media-media kami,” ujar Donald Trump, sebagaimana dimuat BBC, Kamis (28/7/2016).

Permintaan itu disampaikan pria asal New York tersebut setelah muncul dugaan Negeri Beruang Merah terlibat dalam peretasan e-mail dari Komite Konvensi Nasional Partai Demokrat (DNC) demi keuntungan Trump. Kedua pihak terang-terangan menolak tuduhan tersebut.

Baca juga:  Relawan Anies Sandi Launching Program Main Bersama

“Ini sangat tidak baik untuk hubungan bilateral kedua negara. Tetapi, kami mengerti dan paham bahwa periode tidak menyenangkan ini akan segera berlalu,” tutur juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, seperti dimuat Russia Today.

Sebanyak 20 ribu e-mail internal DNC bocor oleh WikiLeaks dan dipublikasikan di situs mereka pada Jumat, 22 Juli 2016. Sang pendiri, Julian Assange, berjanji untuk membongkar lebih banyak lagi e-mail internal DNC. Pria Australia itu mengaku adalah hal yang wajar bagi Hillary Clinton dan orang-orang di sekitarnya untuk menuduh pihak asing jika tersangkut skandal.

“Insting natural dari Hillary Clinton dan orang-orang di sekitarnya bahwa ketika dihadapkan pada skandal politik domestik yang serius, mereka akan menyalahkan Rusia, China, dan lain sebagainya,” ujar Assange.

SHARE

Kirim Komentar